Kenapa Investasi?

Sejak dulu, saya (dan pastinya kita semua) sudah dibiasakan oleh orang tua untuk menabung. Mulanya dari menyisihkan sebagian uang jajan atau uang saweran dari sanak saudara saat lebaran dan menyimpannya di celengan, kemudian mulai diperkenalkan dengan tabungan di bank ketika sudah beranjak dewasa.

Hingga baru-baru ini, cuma itu bentuk perencanaan keuangan yang saya pahami. Menabunglah, dari sana nanti kamu bisa mendapatkan (baca: membeli) apa yang kamu inginkan.

Kemudian suatu hari, di tengah-tengah suatu perbincangan ngalor ngidul tanpa arah dengan seorang kawan, ndilalah topik investasi pun muncul. Kalo nggak salah, waktu itu dia tanya, “Gak tertarik buka reksadana, O?” Hah? Aku pun terperangah.

Terus terang, waktu itu image reksadana bagi saya agak negatif lantaran beberapa waktu sebelumnya marak diberitakan para pemilik reksadana kesulitan me-redeem reksadana yang sudah mereka miliki. Beresiko tinggi–gambaran itu yang tertanam dalam pikiran saya, dan alhasil bikin malas untuk mikirin (apalagi mengambil langkah-langkah) investasi. Baca lebih lanjut

Iklan