#21 – Menggandakan Uang? Kenapa Ngga?

Pernah denger ada janji investasi untuk melipatgandakan uang? Ato malah pernah ikut?

Gw bukan mau nawarin skema investasi itu kok. Hahaha.

Data Inflasi Bank Indonesia

Data Inflasi Bank Indonesia

Mau ngomongin soal rule of 72. Aturan melipatgandakan uang melalui kekuatan bunga majemuk atau compounding interest. Uang akan berlipatganda hasil dari compunding interest asalkan bunga yang kita terima dikalikan jangka waktu penyimpanan kita menghasilkan angka 72.

Jadi ya kalo uang  Rp. 10.000.000 ditaroh di deposito (ambil contoh Bank Mandiri dengan bunga 4.25% p.a dan pajak 20% – nett bunga 3.40%) dan bunganya dimasukkan kembali ke pokok deposito tiap bulan, maka deposito akan mencapai Rp. 20.000.000 dalam waktu kurang lebih 21,18 tahun.

Kok bisa 21,18 tahun? dalam itungan compounding interest aturan 72 berlaku untuk bisa mendapatkan angka double perkiraan bisa didapatkan sbb:

waktu = 72 : 3.4
= 21 tahun

Pun kalo misalkan kalo pengen tahu misalkan pengen menjadikan dana dobel dalam waktu sekian tahun, berapa rate yang kita perlukan. Lets say kalo pengen dana tadi double dalam waktu 5 tahun, berapa sih rate yang diperlukan?

rate = 72 : 5
= 14.4%

Jadi kalo mau menjadikan dana Rp. 10.000.000 jadi Rp. 20.000.000 dalam waktu 5 tahun, cari aja instrumen investasi yang bisa kasih return 14.4% dan hasil investasinya dimasukkan lagi ke pokoknya setiap bulan.

Ah itu mah kelamaan… kalo dipake usaha bisa dalam waktu kurang dari setahun. Lah, usaha mah juga investasi kan. Return usaha bisa sampe 50% lebih. Jadi ya wajar kalo misalkan bisa menggandakan uang awal dalam waktu cepet. Tapi jangan tanya gw usaha apa ya. Hahaha.

Rule of thumbnya, perkalian antara rate dan jangka waktu bisa menghasilkan 72 aja.  Jadi, tinggal seberapa cepat kita mau men”double” kan dana kita dan seberapa besar risiko yang bisa kita tanggung.

High risk, high return.

Start investing! 😀

@danirachmat

#12.5 – Mulai Lagi

Sungkem dulu sama yang sudah baca dan mantengin blog ini.

Beberapa minggu kemaren gw teralihkan dengan kegiatan di dunia nyata, life happens.
Dan salah satunya membaca ebook yang berseri dan selese dalam waktu seminggu. Karena kalo itu gak dilakukan gw bakalan terjebak antara gak konsen kerja dan gak konsen ngeblog. One thing at a time. *kemudian dilempar kalkulator beras segede talenan*

Maaf beribu maaf. *nyengir segede kuda*

Setelah dua mingguan ga nulis di sini jadi bingung mau mulai darimana lagi nih.

Selama ini gw getol bilang ayok jadi investor, yuk investasi dan blablablabla di sini yang mungkin udah pada bosen dengernya, tapi kok ga pernah ngebahas investasi itu bisa di mana aja sih? Masa di reksadana doangan. Ada yang mikir gitu gak?

Ada lah ya…

Makanya di akhir tahun yang indah ini mau bikin postingan tentang penjelasan instrumen investasi. Terutama yang berhubungan dengan paper asset. Investasi di surat berharga.

Eits tapi pembahasannya sih bakalan dengan cara ngomong gw ya dan sebatas pemahaman gw.

Kalo menurut gw investasi dibagi ke kategori berikut ini:

  1. Sektor Riil
  2. Paper Asset/Surat Berharga
  3. Benda Seni
  4. Properti
  5. Logam Mulia

Ada yang mau nambahin?

Yang mau gw bahas sih yang paper asset aja kali ya. Tapi sekali lagi gw bahasnya sesuai pengetahuan dan bahasnya sesuai dengan bahasa gw. Pusing kalo sampe harus ngejelasin theoretically.

Apa aja yang mau dibahas? ga jauh-jauh kok, ntar bakal tentang saham, obligasi, deposito.

#12 – Yuk Jadi Investor Reksadana

Total Investor reksadana individu menurut Bapepam sebesar 349.751 orang di antara 200 juta lebih penduduk Indonesia (sumber: Pusat Informasi Reksadana Bapepam)

Data di atas kalo menurut gw menakjubkan. Tidak sampai satu persen penduduk Indonesia yang ikut berinvestasi di pasar modal Indonesia. Komposisi investasi lokal yang konon mencapai 55% pun masih didominasi investor berdana besar dan sentimen asing masih kuat sekali pengaruhnya ke pasar modal Indonesia. Investor asing rame-rame jual, yang lain pada ikutan jual, padahal mungkin keadaan sebenernya ekonomi Indonesia baik-baik aja. Alhasil karena sentimen asing masih kuat pengaruhnya ekonomi Indonesia ikutan ga stabil.

Trus apa hubungannya kondisi di atas ama gw? Banyak!

Nasionalisme

Postingan ini nyambung postingan #11 tentang Reksadana sebelumnya. Sebagai individu gw punya kekuatan bantu ekonomi Indonesia dengan jadi investor. Bisa langsung dengan beli saham atau obligasi ke pasar primer maupun sekunder Hanya saja ga semua orang punya modal gede untuk bisa beli saham atau obligasi langsung. cara lain adalah beli reksadana.
(Silahkan dibuka langsung link ke wikipedia masing-masing instrumen di atas ya. Sengaja ga tulis pengertian teknis biar lebih banyak posting isi kepala sendiri. Kalo ada pertanyaan monggo loh… Hehehe).

Dengan beli reksadana berarti kita juga beli instrumen pasar modal. Semakin banyak yang jadi pemodal di reksadana, semakin banyak komposisi lokal pemegang saham dan obligasi perusahaan Indonesia. Sedikit banyak akan membantu stabilitas ekonomi Indonesia.

Lebih Mudah Dari yang Kita Bayangkan

Beli reksadana pasti ribet dan berbelit-belit deh. Itu pikiran gw dulu sebelum beli reksadana. Ternyata semakin ke sini gw ngerasa kalo ternyata beli reksadana lebih gampang dari beli emas. Sampe sekarang gw belom nemu yang bisa beli emas dengan online. Bayar online, barang dikirim ke rumah dan aman.

Dibandingkan Jual Beli Emas

Banyak orang takut beli reksadana karena takut risikonya, mereka lebih milih emas karena menurut mereka aman, harganya naik terus. Kalo menurut gw ada juga kok risikonya. In long term basis memang harga emas tidak pernah turun, tapi kalo dilihat historisnya, selama kurun 90 an harga emas cenderung stagnan, kemudian mulai naik dengan landai di periode 99 sampai 2007an. Dari 2007 lah emas mengalami perkembangan luar biasa sampai sekarang. Tapi karena memang jenis emas yang logam mulia menjadikan orang selalu mencarinya. Prinsipnya kalo mau emas kan tetep beli di harga rendah dan jual di harga tinggi, bener kan?

Nah kalo reksadana gimana? Kita beli sama aja kok, dalam satuan unit yang harganya naik turun, beli di harga rendah jual di harga tinggi. Buy low sell high. In long term basis reksadana menunjukkan tren naik. Bahkan ada beberapa reksadana saham yang kalo dirata-rata satu tahun memberikan return lebih dari 100%.

  • Emas dibeli dalam satuan gram, reksadana dalam satuan unit.
  • Harga reksadana naik turun, harga emas juga
  • Emas dibeli di toko emas, reksadana bisa dibeli di bank
  • Reksadana berisiko duitnya ilang (nilainya turun), emas juga

Dan mungkin bakalan banyak alasan lain yang bakal ditunjukkan untuk memenangkan emas kalo memang sesorang ga mau beli reksadana. Kalo gitu mah balik ke masing-masing orang dan tingkat penerimaan risiko mereka. Dan gw garisbawahi, ga ada yang salah dengan jual beli emas, gw juga diversifikasi ke emas kok, hanya saja ada alternatif lain investasi.

Bisa Dibeli di Bank

Meskipun bukan produk bank, reksadana bisa dibeli di bank tempat kita melakukan transaksi.

Well, memang ga semua bank sih, tapi bank-bank nasional sudah banyak yang menjadi Agen Penjual Reksadana. Kayak toko emas yang jualan emas, bukan mereka yang produksi emasnya tapi mereka jualan aja.

Bank juga gitu, mereka cuman dititipin jualan reksadana, bank dapet fee jual dan fee beli dari transaksi reksadana.

Oke, prosedur di bank emang terkesan agak ribet, waktu itu di dua bank berbeda, prosedurnya kurang lebih sama.

  • Gw diminta jadi nasabah bank itu dulu pastinya karena rekening tabungan di bank itu akan jadi rekening sumber pembayaran ketika beli dan rekening penampungan ketika kita jual reksadana.
  • Selain itu gw diminta tanda tangan formulir yang menyatakan kalo kita paham tentang produk reksadana dan membebaskan bank dari tuntutan segala risiko yang terjadi pada dana kita karena itu memang bukan produk bank. Indemnity letter.
  • Mengisi formulir kuisioner penentuan profil risiko untuk kalo misalkan kita mau menentukan jenis produk yang sesuai dengan profil kita.
  • Mengisi aplikasi pembukaan reksadana

Setelah itu pembelian reksadana bisa dilakukan dengan beberapa pilihan.

  • Dateng langsung ke cabang bank tempat kita transaksi, ini terutama kalo kita kenal baik ama customer servicenya. Dan seneng berhahahihi Tapi gw sih males karena kudu ngantri juga dan nungguin sistem loading bank dan sebagainya. Gw kan sibuk ya bok *ditimpuk seratus rebuan seiket*
  • Beli sistem autodebet. Gw lakukan ini di salah satu bank tempat gw transaksi, tiap tanggal tertentu dana yang ada di rekening bakal di potong sesuai jumlah yang kita minta untuk dibeliin reksadana. Jangka waktu transaksi bisa ditentukan untuk periode yang lama. Syaratnya gw ga boleh lupa transfer ke rekening itu dan atao setor buat nyediain dana.
  • Beli lewat internet banking. Online kita bisa beli sendiri produk yang kita mau dari internet banking. Dari mana saja dan kapan saja, tapi eksekusi transaksi pastinya menunggu jam kerja bursa ya.

Kalo untuk pembelian bisa dengan alternatif di atas, sedangkan kalo jual di bank manapun yang gw pernah transaksi selama ini masih kudu harus dateng ke cabang. Ribet? Iyes, tapi kalo buat gw ga masalah. Itung-itung kan men-discourage gw untuk cairin reksadananya. Tapi tetep aja bobol.

Ngawasinnya Gampang

Ehm, kalo alesan ngawasinnya susah buat ga beli reksadana yang dikasih ke gw trus ternyata orang itu beli emas dan beli asuransi pendidikan or whatsoever similiar gw bakal nanya:

  • Monitor harga emasnya gimana? Kemungkinan besar sih buka websitenya logam mulia ato telepon toko emasnya
  • Ngawasin asuransi pendidikan or whatsoever similiarnya gimana? Nelepon ke agen? Nyerahin sepenuhnya ke agen buat manage? Mending sewa gw deh jadi plannernya. *modus*

Reksadana sama mudahnya kalo ga boleh disebut jauh lebih simpel. You can call your bank and ask the latest price but it will cost you phone bill and most likely your bank officer will note you as a lazy and irritating customer. Info soal harga reksadana banyak banget kesebar di mana-mana. Sebagai instrumen pasar modal, reksadana dituntut untuk terbuka dan memberikan update harian harga mereka. Bisa ditemuin di sini nih?

  • Nanya ke bank seperti gw bilang sebelumnya
  • Info di koran nasional, bagian ekonomi dan sejenisnya buat yang emang langganan koran
  • Website-website macem infovesta dan sejenisnya

Di sumber-sumber informasi itu bisa tahu loh harga satu unit reksadana yang kita beli sesuai namanya secara harian, bahkan kinerjanya setahun atau tiga tahun terakhir. Bapepam sebagai regulator pun menyiapkan pusat informasi kalo kita mau cari info soal reksadana.

Jadi pengen tahu harga reksadana tiap hari? Bisa banget dan medianya gampang banget ditemuin kok.

Pilihan

Itu sekilas reksadana dari pengalaman gw, ada loh alternatif investasi yang sebenernya gampang dan bisa lebih diandalkan dibanding produk bank konvensional.

Kalo mau pilih di emas, silahkan. Toh sekarang harga emas menunjukkan kinerja bagus, semoga sampe belasan atau puluhan tahun ke depan bisa tetep kinclong dan bersinar seperti sekarang. Silahkan mencari toko emas terdekat dan terpercaya.

Kalo masih bilang reksadana serem dan menakutkan trus milih deposito, well… Itung lagi aja bunga deposito berapa net setelah pajak, inflasi berapa. Duit memang aman ya in terms of nilai, tapi itung nilai inflasi berapa. Justru kalo nilai bunga yang didapet jauh lebih kecil dari inflasi, risikonya udah pasti. Nilai duit kita berkurang. Seratus juta atopun semilyar sekarang nilainya beda loh dengan seratus juta ato semilyar sepuluh tahun lagi.

Kalo mengerti mekanisme pasar modal dan bisa investasi di saham langsung bisa lebih fleksibel mengelola dana dan target keuntungan asalkan tidak dilakukan dengan sistem gambling dan ikut-ikutan ya. Apalagi sekarang nasabah individu juga bisa beli obligasi ritel pemerintah Indonesia lewat ORI.

Kalo bisa usaha langsung malah bisa lebih untung, margin investasi kita sendiri yang menentukan. Kalo perusahaan yang dirintis sukses bakalan bisa jadi bekal masa pensiun nanti.

Penutup

Ketakutan gw dan temen-temen mungkin sama yang menurut gw kurang lebih dikarenakan ketidaktahuan. Yuk banyak baca, banyak gali informasi dan diskusi. Industri keuangan diregulasi ketat kok sama pemerintah, jadi kalo yang dijual resmi di bank sudah ada aturan jelasnya. Kecil kemungkinan uang kita dibawa kabur dan sebagainya.

Kalo nasionalisme yang gw sebut-sebut di wal ga ada ngaruhnya ke kita karena toh ini urusan duit, yang mana negara ga mau bayarin fasilitas publik buat warganya dan kita kudu jumpalitan ngatur gaji bulanan just to meet the end, gw ambil dari sudut pandang lain deh.

Dari segi keuntungan, duit.

Kalo orang (pemodal) asing bisa dapet banyak untung dari pasar modal Indonesia, kenapa kita yang orang Indonesia sendiri ga mau? They (foreign investors) will not be here if it didn’t give them money.

Pilih Investasi yang Mana?

Setelah tahu kalo konsep dasar investasi terpenting adalah gimana caranya nilai uang berkembang lebih besar dari nilai inflasi, sekarang alternatif buat investasi apa aja? Jawabannya banyak sekali sebenernya. Balik lagi tergantung profil risiko dan tambahan satu hal, waktu yang dimiliki untuk mengelola.

Menurut gw pilihan investasi itu bisa:

1. Sektor Riil/Usaha

Usaha di sini bisa aja buka warung tegal, tambal ban, jasa travel sampe perusahaan tambang. Apapun sesuai kemampuan. Denger-denger investasi dengan cara usaha bisa bikin asetnya aktif. Tapi ya itu tadi balik ke kemampuan.

Pegawai belum tentu gak bisa usaha loh. Buka warteg contohnya. Cuman karena gw sendiri juga belom punya usaha jadi gak layak gw ngomong ya. 😀

Baca lebih lanjut

Investasi itu Apa?

Investasi : akumulasi suatu bentuk aktiva dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa depan.
Wikipedia berbahasa Indonesia mengenai investasi

Merencanakan keuangan gak bisa dipisahkan dari yang namanya investasi. Kalo gw bilang gini, rata-rata temen langsung ngernyitin dahi mereka, investasi apa sih?

Kalo ngelihat definisi dari Wikipedia di atas, yang namanya investasi itu akumulasi suatu bentuk aktiva biar untung di masa depan. Contohnya apa? ya kalo pengusaha tahu, beli mesin pembuat tahu yang paling oke biar bisa produksi tahu dengan modal paling minimal dan jual dengan harga paling oke biar untungnya maksimal. Kebayang kan? jadi investasi itu sebenernya sederhana.

Pertanyaan selanjutnya, lah kalo kayak semacam pegawai gitu investasinya apa dong? Balik lagi, kan tujuannya untuk mendapatkan keuntungan di masa depan. Pertanyaannya, keuntungannya dibandingkan dengan apa?

Dibandingkan dengan inflasi(pengertian inflasi menurut Wikipedia berbahasa Indonesia)  Baca lebih lanjut

Investasi Males Ribet

Hola a todos. ¿Como estan?

Jadi, apakah kamu sudah menentukan jenis risiko yang bisa kamu tanggung dalam berinvestasi? Apakah kamu juga sudah tahu tujuan dan besar investasi yang bakal kamu lakukan?
Setelah punya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas, maka kurang lebih kamu bakal punya gambaran untuk menentukan jenis investasi yang bisa kamu ambil.
Jelas nggak mungkin untuk menjelaskan semua jenis investasi yang ada saat ini, untuk sekarang mungkin saya cuma mau sharing soal apa saja sih yang sudah saya lakukan hingga saat ini. Setelah menimbang mengingat dan memperhatikan, diikuti dengan puasa mutih selama 7 hari 7 malam dan bertapa di lereng Gunung Semeru (*dinarasikan dengan suara Ferry Fadly atau Maria Oentoe * *siapa mereka?* *gak ada yang kenal kayaknya* T___T), akhirnya saya memutuskan bahwa risiko investasi untuk saya adalah moderat. Nggak segitu parnonya kalau nilai investasi turun, tapi juga masih belum berani untuk terlalu berspekulasi.
Saya pernah baca di suatu tempat, dalam berinvestasi berlaku nasihat “Don’t put your eggs in one basket.” Telur itu adalah dana yang kita ingin investasikan, sedangkan keranjang adalah instrumen investasi yang kita pilih. Untuk itu, saya taruh telur-telur itu ke dalam beberapa keranjang. Selain itu, sebagai pemalas (diucapkan dengan bangga) saya juga males ribet jadi saya pilih juga keranjang-keranjang yang gampang diperoleh. Berikut ini diantaranya… Baca lebih lanjut

Kenapa Investasi?

Sejak dulu, saya (dan pastinya kita semua) sudah dibiasakan oleh orang tua untuk menabung. Mulanya dari menyisihkan sebagian uang jajan atau uang saweran dari sanak saudara saat lebaran dan menyimpannya di celengan, kemudian mulai diperkenalkan dengan tabungan di bank ketika sudah beranjak dewasa.

Hingga baru-baru ini, cuma itu bentuk perencanaan keuangan yang saya pahami. Menabunglah, dari sana nanti kamu bisa mendapatkan (baca: membeli) apa yang kamu inginkan.

Kemudian suatu hari, di tengah-tengah suatu perbincangan ngalor ngidul tanpa arah dengan seorang kawan, ndilalah topik investasi pun muncul. Kalo nggak salah, waktu itu dia tanya, “Gak tertarik buka reksadana, O?” Hah? Aku pun terperangah.

Terus terang, waktu itu image reksadana bagi saya agak negatif lantaran beberapa waktu sebelumnya marak diberitakan para pemilik reksadana kesulitan me-redeem reksadana yang sudah mereka miliki. Beresiko tinggi–gambaran itu yang tertanam dalam pikiran saya, dan alhasil bikin malas untuk mikirin (apalagi mengambil langkah-langkah) investasi. Baca lebih lanjut