#4 – Kereta Ekonomi? Hayuk!

Hemat adalah menggunakan yang perlu aja untuk mengefisienkan pengeluaran. Pelit sebisa mungkin tidak menggunakan yang diperlukan untuk mencegah biaya keluar. -Selfnote

Dari daftar pengeluaran rutin harian gw, ternyata lebih dari 60% gw habiskan untuk transportasi (biro pusat statistik rumah tangga @danirachmat). Yes that big. Jadi misalkan seharian gw habiskan Rp. 50.000, transportasi memakan Rp. 30,000 di antaranya. Sebuah konsekwensi yang kudu gw ambil dengan kondisi hidup jauh di luar Jakarta Baca lebih lanjut

Iklan

#2 – Kenapa Kerja di Bank

Postingan terberat. Hehehe.

Setelah bilang mau ganti konsep ternyata susah banget mau mulai posting. Ga tau mau mulai dari mana. Bingung jadinya. Hehehehe.

Ngomongin soal finance, kenapa gw tertarik, sebenernya karena latar belakang keluarga. Bukan, gw bukan berasal dari keluarga begawan ekonomi Indonesia. Gw berasal dari keluarga sederhana kalo gak boleh dibilang miskin. Bapak gw seorang karyawan honorer instansi pemerintah yang selama 32 tahun menanti pengangkatan yang gak kunjung tiba. Beliau nyambi jadi supir angkot. Sementara Ibuk seorang stay home mom yang nyambi buka toko kebutuhan sehari-hari buat bantu Bapak.

Gw tumbuh dengan segala keterbatasan keuangan. Dulu rasanya iri ngelihat temen nulis di bagian gaji besaran Rp. 5 juta sementara gw nulis gaji Bapak cuma Rp. 350 ribu. Bahkan guru SMP sampe minta gw ngecek kembali ke ortu karena takut salah tulis. 

Sementara banyak temen dengan mudahnya beli komik dan buku terbaru gw kudu naik sepeda sejam limabelas menit sekali jalan untuk ngasih les anak SD dulu kalo mau beli komik yang sama. Menyesal? Nggak sama sekali. Bahkan gw ngerasa bersyukur jadi tahu gimana susahnya cari duit dan lebih menghargai setiap rupiah yang gw punya.

Latar belakang itulah yang bikin gw tertarik sama dunia keuangan. Gw pengen tahu gimana caranya duit itu bekerja.

Jadilah gw masuk ke bank setelah lulus kuliah di IT. Gw bisa ngerjain tugas-tugas dari dosen dan berhasil lulus dengan IPK yang lumayan untuk ngelamar ke perusahaan-perusahaan nasional tapi gw ga terlalu suka dunianya *dipentung dosen sejurusan*.

Yang gw inget banget suatu siang gw liat tv. Awal-awal MetroTV siaran. Acara Market Update yang hostnya Sandrina Malakiano. Gw mikir:
I want to know this world. Finance world. Whatever it means

Yeaaah. Di pikiran aja gw make bahasa Inggris. Yes gak sih? *dikeplak*

Di sinilah gw. 7 tahun setelah lulus kuliah. Kerja di sebuah bank asing dengan pengalaman retail dan corporate banking. Pegang gelar CFP (Certified Financial Planner) dan sedikit ngerti tentang finance.

Is life easier since then? We’ll see. 🙂

Note: Padahalan ya, kerja di IT as far as I know gajinya jauh lebih gede daripada di bank. Hehehehe.

@danirachmat

#1 – Change of Concept

An update after a while is still considered an update. Isn’t it?

Niat awal gw bikin blog ini adalah untuk sharing hal-hal terkait financial planning – perencanaan keuangan pribadi. Tapi sepanjang perjalanan yang belom seberapa ini, along the way, I find it hard.

Postingan ini akan bernada pengakuan, curhat ato apapun lah yang sejenis. Hehehe.

Kenapa berat? karena gw mau nulis dalam tataran teori. Padahal tujuan awal bikin blog celengan semar yang gw khususkan buat financial planning ini adalah untuk berbagi kalo perencanaan keuangan itu sederhana. Applicable. Bisa diaplikasikan untuk level penghasilan berapapun. Tapi kalo gw nulisnya teori doang apa iya orang bisa dapet gambaran kira-kira gimana bisa diaplikasikan buat mereka.

Selain itu gw sedikit kehilangan minat karena yang gw tulis adalah teori. I find it hard anyway to write what other people might already know.

Jadi dari sekarang gw ma Aghla mungkin bakal nulis dari sudut pandang kami. our point of view. Tentang teori financial planning dalam hidup kami.

Kalo teori udah bejibun kali ya yang nulis. Dan gw bakalan lebih rajin blogwalking make alamat situs inih. 🙂

@danirachmat

Pilih Investasi yang Mana?

Setelah tahu kalo konsep dasar investasi terpenting adalah gimana caranya nilai uang berkembang lebih besar dari nilai inflasi, sekarang alternatif buat investasi apa aja? Jawabannya banyak sekali sebenernya. Balik lagi tergantung profil risiko dan tambahan satu hal, waktu yang dimiliki untuk mengelola.

Menurut gw pilihan investasi itu bisa:

1. Sektor Riil/Usaha

Usaha di sini bisa aja buka warung tegal, tambal ban, jasa travel sampe perusahaan tambang. Apapun sesuai kemampuan. Denger-denger investasi dengan cara usaha bisa bikin asetnya aktif. Tapi ya itu tadi balik ke kemampuan.

Pegawai belum tentu gak bisa usaha loh. Buka warteg contohnya. Cuman karena gw sendiri juga belom punya usaha jadi gak layak gw ngomong ya. 😀

Baca lebih lanjut

Investasi itu Apa?

Investasi : akumulasi suatu bentuk aktiva dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa depan.
Wikipedia berbahasa Indonesia mengenai investasi

Merencanakan keuangan gak bisa dipisahkan dari yang namanya investasi. Kalo gw bilang gini, rata-rata temen langsung ngernyitin dahi mereka, investasi apa sih?

Kalo ngelihat definisi dari Wikipedia di atas, yang namanya investasi itu akumulasi suatu bentuk aktiva biar untung di masa depan. Contohnya apa? ya kalo pengusaha tahu, beli mesin pembuat tahu yang paling oke biar bisa produksi tahu dengan modal paling minimal dan jual dengan harga paling oke biar untungnya maksimal. Kebayang kan? jadi investasi itu sebenernya sederhana.

Pertanyaan selanjutnya, lah kalo kayak semacam pegawai gitu investasinya apa dong? Balik lagi, kan tujuannya untuk mendapatkan keuntungan di masa depan. Pertanyaannya, keuntungannya dibandingkan dengan apa?

Dibandingkan dengan inflasi(pengertian inflasi menurut Wikipedia berbahasa Indonesia)  Baca lebih lanjut

Investasi Males Ribet

Hola a todos. ¿Como estan?

Jadi, apakah kamu sudah menentukan jenis risiko yang bisa kamu tanggung dalam berinvestasi? Apakah kamu juga sudah tahu tujuan dan besar investasi yang bakal kamu lakukan?
Setelah punya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas, maka kurang lebih kamu bakal punya gambaran untuk menentukan jenis investasi yang bisa kamu ambil.
Jelas nggak mungkin untuk menjelaskan semua jenis investasi yang ada saat ini, untuk sekarang mungkin saya cuma mau sharing soal apa saja sih yang sudah saya lakukan hingga saat ini. Setelah menimbang mengingat dan memperhatikan, diikuti dengan puasa mutih selama 7 hari 7 malam dan bertapa di lereng Gunung Semeru (*dinarasikan dengan suara Ferry Fadly atau Maria Oentoe * *siapa mereka?* *gak ada yang kenal kayaknya* T___T), akhirnya saya memutuskan bahwa risiko investasi untuk saya adalah moderat. Nggak segitu parnonya kalau nilai investasi turun, tapi juga masih belum berani untuk terlalu berspekulasi.
Saya pernah baca di suatu tempat, dalam berinvestasi berlaku nasihat “Don’t put your eggs in one basket.” Telur itu adalah dana yang kita ingin investasikan, sedangkan keranjang adalah instrumen investasi yang kita pilih. Untuk itu, saya taruh telur-telur itu ke dalam beberapa keranjang. Selain itu, sebagai pemalas (diucapkan dengan bangga) saya juga males ribet jadi saya pilih juga keranjang-keranjang yang gampang diperoleh. Berikut ini diantaranya… Baca lebih lanjut

Konservatif, Moderat ato Agresif?

Kalo misalkan dana yang lu simpen di investasi reksadana saham buat lets say 10 tahun lagi nilainya tiba-tiba turun jadi 50% nilai awalnya. Gimana perasaan lu dan apa yang bakalan lu lakukan?
-pertanyaan.

Nyambung dari postingan tentang sebelum mulai memilih investasi di mana, gw sempet singgung soal tingkat penerimaan risiko yang akan menentukan jenis investasi nantinya. Pertanyaan di atas sering gw ajukan ke temen-temen yang nanya sebaiknya investasi di mana. Dan jawabannya kadang-kadang lumayan mengejutkan.

Baca lebih lanjut

Sebelum Mulai Memilih

Ngerencanain keuangan erat hubungannya sama investasi. Cuman, seperti yang pernah gw tulis sebelumnya, inti dari perencanaan keuangan sebenernya gimana ngatur arus duit kas. Seperti yang pernah gw tulis sebelumnya, pertama kali mending kalo lacak dulu semua pengeluaran. Setelah arus kas lancar, baru deh dana yang ada bisa kita alokasikan buat investasi. Semakin cepat dimulai semakin bagus.

Pertanyaan berikutnya setelah kapan sebaiknya mulai yang sering gw terima adalah “Gw sebaiknya investasi di mana?

Ngejawab pertanyaan ini gak bisa langsung dengan memberikan satu produk sebagai solusi. Buat bisa ngejawab ini, sebaiknya kudu bisa jawab beberapa pertanyaan di bawah ini dulu. Yak, pertanyaan itu bakal gw jawab dengan pertanyaan. 😀

Baca lebih lanjut

Yuk Mulai Sekarang!

An investment in knowledge pays the best interest.
Benjamin Franklin – quoted from BrainyQuote.com

@aghla kemaren nulis artike yang menarik tentang kenapa harus investasi di blog ini. Isi artikel itu kurang lebih latar belakangnya dia memutuskan buat berinvestasi. Buka linknya yah biar bisa baca lebih jelasnya. *smile*. Isi postingan itu ngingetin gw ama percakapan sama temen-temen gw SMP dan SMA yang jadi salah satu bahan post gw di blog pribadi  yang judulnya Libur Lebaran itu Indah.

Salah satu temen gw itu udah ada pengusaha yang sukses, sementara yang lainnya ya sama-sama kayak gw. Ada di posisi mulai menapaki karir (haiyah.. etapi beneran kan ya?), mulai keluarga baru dan mulai menata kondisi keuangan. Mereka  pada nanya yang rata-rata pertanyaannya :

Kalo mau inves bagusnya di mana? | Gimana caranya investasi? | Kapan gw harus mulai investasi?

dan pertanyaan-pertanyaan semacem itu. Gw tertarik banget buat jawab pertanyaan terakhir. Kapan harus mulai investasi. Baca lebih lanjut

Kenapa Investasi?

Sejak dulu, saya (dan pastinya kita semua) sudah dibiasakan oleh orang tua untuk menabung. Mulanya dari menyisihkan sebagian uang jajan atau uang saweran dari sanak saudara saat lebaran dan menyimpannya di celengan, kemudian mulai diperkenalkan dengan tabungan di bank ketika sudah beranjak dewasa.

Hingga baru-baru ini, cuma itu bentuk perencanaan keuangan yang saya pahami. Menabunglah, dari sana nanti kamu bisa mendapatkan (baca: membeli) apa yang kamu inginkan.

Kemudian suatu hari, di tengah-tengah suatu perbincangan ngalor ngidul tanpa arah dengan seorang kawan, ndilalah topik investasi pun muncul. Kalo nggak salah, waktu itu dia tanya, “Gak tertarik buka reksadana, O?” Hah? Aku pun terperangah.

Terus terang, waktu itu image reksadana bagi saya agak negatif lantaran beberapa waktu sebelumnya marak diberitakan para pemilik reksadana kesulitan me-redeem reksadana yang sudah mereka miliki. Beresiko tinggi–gambaran itu yang tertanam dalam pikiran saya, dan alhasil bikin malas untuk mikirin (apalagi mengambil langkah-langkah) investasi. Baca lebih lanjut