#9 – Menyiapkan Dana Darurat

20121204-072612.jpg

‘Dana darurat paling bagus ditaroh di mana?’

Pertanyaan di atas bakalan memiliki jawaban yang beraneka ragam tergantung dari tipe orang yang bertanya.

Karena sifatnya yang darurat, seharusnya instrumen tempat dana itu ditempatkan ga akan mengalami penurunan. Instrumen yang apabila dicairkan saat ini sekarang juga ataupun dicairkan sebulan kemudian masih memiliki nilai yang minimal sama (kalo memang ga mengharapkan pertambahan nilai).

Selain itu, akses ke dana darurat seharusnya bisa dilakukan kapan saja ketika kejadian darurat terjadi.

Instrumen Alternatif

Dengan kondisi nilai yang harus ga turun memang sebaiknya dipilih instrumen-instrumen yang konservatif dan lebih aman untuk dana darurat. Beberapa pilihan penempatan dana darurat ini antara lain bisa sebagai berikut:

  1. Tabungan Bank

    Kelebihan tabungan emang kemudahannya diakses. Hampir bisa kapan aja dan di mana aja diambil ketika dibutuhkan. Selain itu karena merupakan produk bank, nilai tabungan dijamin oleh pemerintah. Kalo terjadi sesuatu sama bank, pemerintah yang akan ganti.

    Hanya saja kalo menurut gw, menempatkan dana darurat di tabungan adalah sesuatu yang bisa bikin gw terperosok dalam keadaan darurat. Pikiran gw pasti akan berkhianat dan membuat reasoning kalo situasi yang gw adepin seolah-olah darurat.

    Ada cara lain memang menggunakan tabungan sebagai tempat menyimpan dana darurat, dengan menggunakan rekening tabungan lain yang terpisah, tapi ada kekurangan lain, suku bunga tabungan masih terlalu kecil dan bikin nilai imbal hasil sampai dengan jumlah tertentu jauh lebih kecil dibanding biaya administrasi. Bukannya bertambah, nilai tabungan akan berkurang, tujuan utama dipakainya tabungan untuk penyimpanan dana darurat tidak tercapai. Belum lagi ngomongin inflasi.

  2. Deposito

    Satu lagi produk bank yang menurut gw bisa dijadikan alternatif menyimpan dana darurat. Dengan tingkat bunga yang lebih tinggi dan kepastian penjaminan dari pemerintah mungkin akan jadi daya tarik yang kuat buat orang bertipe konservatif.

    Memang ga ada biaya administrasi bulanan, tapi perlu diingat akan ada biaya materai ketika membuka dan mencairkan deposito (tergantung bank tempat deposito dibuka sih). Atau kalau memang mau free, bisa dibuka melalui internet banking atau e-banking channel yang lain.

    Yang kudu diinget adalah deposito membutuhkan satu periode tertentu untuk bisa cair. Dan ketika kejadian darurat terjadi, maka dana di deposito baru akan bisa dipergunakan setelah cair. Ada memang yang basis perhitungannya harian, tapi minimal saldo yang disyaratkan biasanya lebih besar. Sedangkan kalo kita memutus deposito yang sedang berjalan, umumnya akan dikenakan biaya pemutusan sebelum jatuh tempo yang umumnya berada di kisaran 0.5% dari nominal deposito.

    Kalau tingkat suku bunga memang jadi pertimbangan memilih deposito, kudu diinget kalo bunga deposito akan dikenakan pajak 20%, jadi kalo diberikan bunga 5% atas deposito, bunga efektif yang kita terima akan jadi 5% x 80% = 4%. Inflasi kita sekitar 6%an. Jadi ga akan ngejar inflasi juga sebenernya.

  3. Reksadana Pasar Uang

    Produk ini bukan produk bank, jadi tidak mendapatkan jaminan pemerintah.

    Apakah aman? Yang gw bisa bilang sih produk reksadana secara umum diatur dan diregulasi secara ketat sampaidengan sehingga pengelolaan uang dan portofolio investasi dipisah. Dana nasabah di bawah supervisi bank kustodian, bukan di bawah manajer investasi sehingga apabila kejadian si MInya rugi, dana nasabah masih aman. Menurut gw aman.

    Nilai unit reksadana pasar uang yang selalu 1.000 bisa masuk ke kriteria nilai yang ga pernah turun untuk dana darurat. Nilai imbal hasil untuk produk ini pun relatif lebih tinggi apabila dibandingkan dengan deposito dan sampai saat ini masih belum dikenakan pajak.

    Yang perlu dicatat adalah kalo menyimpan dana darurat di reksadana pasar uang, pencairan tidak bisa dilakukan sewaktu-waktu. Karena untuk dapat mencairkan reksadana pasar uang, kita harus dateng ke bank penjualnya dan memerlukan waktu pencairan minimal t+1 sampai dana masuk ke rekening.

  4. Emas

    Pertanyaan paling sering adalah kalo dana darurat disimpen di emas begimana?

    Harga emas juga mengalami naik turun, bagaimanapun juga emas salah satu komoditas yang diperdagangkan. Dilihat dari sejarah harganya, emas mengalami kenaikan signifikan dari tahun-ke tahun baru mulai dari 2003-2004. Sebelumnya? Sempat naik dan turun dan terkesan cenderung flat.

    Karena diperdagangkan, timing pengaruh banget untuk nyimpen emas sebagai dana darurat. Jangan sampai beli pas kemahalan dan jual pas harga turun. Kalo gw bilang sih bukan instrumen terbaik untuk menyimpan dana darurat kalo ga boleh dibilang bukan instrumen untuk dana darurat. Apalagi terdapat perbedaan harga jual/beli dari toko bahkan ketika kita beli dan kemudian dijual kembali pada waktu yang bersamaan.

    Faktor jual beli jugalah yang akan menambah kerumitan pas waktu mau jual emas ketika dibutuhkan. Kita harus datang ke toko dan melakukan transaksi untuk bisa dapet uang. Permasalahannya kalau misalkan kejadiannya malem-malem di weekend panjang bagaimana? Akan susah ketika kita tempatkan seluruh dana darurat itu di emas.

Jadi menurut gw dana darurat sebaiknya ditempatkan tidak hanya di satu instrumen saja, tapi di mix n match sesuai profil risiko masing-masing aja. Salah satu contohnya, misalkan kebutuhan dana daruratnya 12x penghasilan, dipisah-pisahkan dengan proporsi 1x di tabungan, 2x di deposito, 6x di reksadana pasar uang dan 3x di emas. Ini bukan patokan mati dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan profil risiko masing-masing dan jangan sampai nantinya karena sangat butuh uang sementara dananya disimpen di satu instrumen yang harganya naik turun akhirnya dijual cepet dan rugi.

Cara Alternatif

Misalkan saja tidak mau memakai produk bank karena imbal hasilnya yang kecil dan dana darurat ditempatkan seluruhnya di reksadana pasar uang dan atau kombinasi dengan emas, ketika terjadi kebutuhan yang bisa dibayarkan cashless, kartu kredit bisa digesek untuk dipergunakan dahulu sambil memproses pencairan dana darurat.

Ketika dana darurat sudah cair, secepatnya outstanding kartu kredit tadi dibayar dengan dana yang ada.

Berapa yang Harus Disiapkan?

Seperti gw udah singgung di postingan nomor 8 tentang Dana Darurat, untuk satu orang besarnya paling ngga 3 kali penghasilan bulanan dan meningkat seiring bertambahnya orang. Kalo memang dirasa terlalu berat, bisa disiasati dengan mengangsur pemenuhan dana darurat ini.

Misalkan saja untuk tahap pertama targetkan dulu untuk bisa mencapai 30% dari total kebutuhan, atau bisa juga dihitung dari besaran gaji, 1x dulu dan bertambah kelipatannya atau dengan satuan apapun yang dirasa sesuai. Apabila dana darurat sudah terkumpul, usahakan menaati tujuan dibentuknya dana darurat dan tidak mencairkan setiap butuh dana cash.

Gw sendiri juga dalam tahap ngumpulin dana darurat kok. Jadi, yuk bareng-bareng ngumpulin dana darurat. 🙂

@danirachmat

Iklan

2 thoughts on “#9 – Menyiapkan Dana Darurat

  1. Ping balik: Membandingkan « danikurniawan

  2. dulu pas single aq sudah pernah minat untuk beli reksadana itu tp mikirny dulu kayak aq sudah mengambil langkah terlalu tua dr umurq..hehehehe…skrng agak nyesel knp g sedari dulu..xixixi…skrng wes pengalokasian dana sudah macem2..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s